Renung Muram Arwah Zaitun

Seorang gadis bertanya pada buah zaitun yang terduduk diam dalam genangan tonik seperempat tercampur gin tak sengaja tertuang penuh untuk ketiga kali di gelas piccolo. Gelas ini semestinya untuk kopi, keluhku.

“Apa kamu pernah menangis duhai buah zaitun yang terduduk diam dalam gelas kopi yang terisi minuman jahanam dan tidak sanggup menolak dengan kejam?”

Buah zaitun tetap diam. Diam yang tampak mati dan tertekan pekat liur gurauan setan. Entah arwah zaitun atau alam pikiran yang mulai melantur, terdengar jawab dalam kepala ini yang kerap dituduh makar padahal hampir pikun. Mungkin calon Alzheimer, keluh si gadis sekali dua waktu.

Jawabnya:

“Sepertimu hai gadis yang tak lagi manis dan berubah menjadi sinis namun kerap enggan berpikir kritis, seringkali aku menangis. Sekali waktu aku menangis ketika bulan terlalu bundar. Mengingatkanku pada wajah bocah kelas lima yang dipaksa tidak sadar, digeletakkan sekenanya di lorong pusat kota dengan bersandar. Sekotak kaleng biskuit di hadapannya disertai pancingan lima ribu selembar, seakan meronta meminta ada yang onani empati berbalut iba menjatuhkan seratus dollar.”

“Oh, ya aku paham”, jawab sudut pikiran lain si gadis yang tiga perempat sadar.

“Lain waktu, aku pernah menangis ketika negeri berubah biru. Mengingatkan aku pernah tidak kurang dari tiga puluh delapan tahun negeri ini dikuasai orde kuning yang merasa baru. Kuning yang gemar menyaring opini dan menjaring yang terlalu berani. Ada bredel yang sehancur namun nian tidak seenak perkedel, ada bedil yang siap tidak tolerir, ada anak yang merindukan bapak yang entah pergi mencari uang ke mana sampai anyir keringatnya tidak pernah lagi sampai ke rumah. Sang anak pun tak lagi punya kesempatan bertanya pada bapaknya tentang puasa itu apalah gunanya.”

“Oh, ya aku paham”, jawab sudut pikiran lain si gadis yang hampir seperempat sadar.

Kemudian arwah zaitun atau pikiran yang melantur, terdiam. Lama. Mungkin bosan. Pikiran sadar seperempat si gadis berangsur bangkit dari duduknya mengambil kunci mobil di kotak obat, mencoba tidak acuh terhadap tanya linglung gerangan apa yang dilakukan kunci mobil di kotak obat, kemudian berjalan lagi menyalakan kendaraan, melaju tanpa satupun tuju.

Rokok sebatang terselip di sela dua jari, berkeretak terbakar. Satu, dua, tiga, empat batang perlahan tandas. Lima, sepuluh, dua puluh lima menit mobil melaju tak lebih dari enam puluh kilometer per jam. Jendela terbuka. Pendingin mobil dimatikan, inallilahi. Suara angin berdesing. Alex Turner bersenandung mengisi ruang. Si gadis tetap bungkam.

Ibukota temaram. Tiga kali terlihat lampu jalan padam. Beberapa spanduk berteriak menyerukan dendam. Walikota yang terkenal kejam tersandung kaki-kaki kaum pecinta apapun asal seragam yang tak sadar terserang penyakit benci tak mengenal redam.

Kemudian hening pecah oleh ronta kaleng kosong ditendang pemuda yang terlihat frustasi mungkin karena rindu tertahan akibat cinta terpendam, pikir si gadis. Sadar langit malam tetap pekat hitam legam. Pemuda frustasi menengadah, mata terlihat nanar tanpa binar, berharap hujan jatuh mendukung nyanyi sunyi getar rindu di hati yang nampak bersungguh-sungguh tak sanggup lagi bersembunyi. Oh rupanya lagi-lagi cerita cinta yang tak mampu memiliki.

“Oh mengapa kota ini terlalu muram? Bahkan jatuh cinta saja menimbulkan frustasi sebegitunya”, keluh pikiran sadar seperempat si gadis yang mengambang menimbang tidak senang.

“Oh duhai gadis yang tidak lagi manis dan berubah sinis yang sekarang mencoba berpikir kritis, sudah lewat tengah malam, lajulah mobil kembali ke rumah. Nanti kuceritakan sebab lain ku menangis.”, ujar arwah zaitun yang nampaknya sekarang betah bersarang di kepala si gadis.

“Oh, ya aku paham”, sahut pikiran lain si gadis yang mencoba sadar setengah saja.

“Sambil kau melaju perlahan, kuceritakan sebab lain ku menangis. Pernah ketika pelangi mengambang di sore bulan Januari. Warna warni mengingatkan ku akan indahnya jemari. Lima dalam satu inti. Semua berbeda dan tetap memiliki fungsi. Lima dalam satu yang saling mengisi. Rupanya tidak banyak yang paham dalam satu diri ini pun banyak sekali beda yang tidak pernah saling iri apalagi benci. Bagaimana bisa benci dan iri jika satu dengan lainnya sadar saling mendukung kehidupan diri ini.”

“Oh, ya aku paham”, sahut pikiran yang berangsur sadar si gadis, kali ini sudah hampir kembali ke tiga perempat.

“Tunggu, aku belum selesai. Tapi syukurlah jika kau sudah paham sampai di sini. Namun kemudian kau harus tau yang aku tangisi lagi ketika mengingat jemari padahal sedang melihat pelangi adalah pertanyaan yang kemudian timbul. Bagaimana bisa seorang kemudian berkelompok dan menanam paksa paham bahwa berbeda itu salah? Padahal itu indah. Berbeda itu dosa dan harus binasa. Pernah ada beda yang tersungkur mati sesaat setelah lehernya digergaji. Gadis kecil mati meledak, kemudian ada yang menari. Toleransi pun kemudian dijual lewat sepatu lari.”

“Oh, ya aku pa…

Ibukota temaram. Tiga kali terlihat lampu jalan padam. Beberapa spanduk berteriak menyerukan dendam. Kesadaran tiga perempat dipaksa diam terbentur baja yang menembus kulit kepala. Truk pengangkut baja panjang kelebihan muatan berhenti mendadak, supir tak pernah hirau lampu rem senasib dengan tiga lampu jalan yang padam. Kesadaran yang menunggu seperempatnya pulih dipaksa tidak boleh kembali oleh tiga perempat lainnya yang tak cukup sigap memberi tau kaki kiri menginjak pedal rem pada mobil yang melaju kurang dari enam puluh kilometer per jam di malam minggu sehabis hujan gerimis.

Kesadaran tiga perempat bertemu arwah zaitun jelmaan pikiran yang melantur sekarang sedang merajut memori sebab ia menangis. Bersekongkol menghantui pemerintah kota yang kembali mulai lalai malahan pamer kulit paha yang mungkin ingin dibelai. Semoga tak semua abai.

Have You Laughed Today?

A person who knows how to laugh at himself will never ceased to be amused.
-Shirley MacLaine

Setelah melewati perjalanan 12 jam dalam bis malam dari Bangkok menuju perbatasan Myanmar dengan hembusan penyejuk udara yang dinginnya gak santai akhirnya saya sampai di kota May Sot, masih di wilayah bagian Thailand. Waktu itu sekitar pukul 4 pagi. Bersama beberapa turis dan warga lokal lain saya menyusuri terminal bus May Sot dengan wajah lusuh dan backpack sebesar dua karung beras menghiasi punggung dan bahu saya.

Saya sendirian dalam perjalanan sudah membayangkan akan mengunjungi banyak pagoda dan monestary di kota-kota lama Myanmar dan bermeditasi dengan tenang di dalamnya, mengunci diri sementara dari dunia luar, dan mulai mengenal dan memperbaiki diri di dalam. Tapi rencana itu gagal. Haha..

Setelah selalu sendirian sepanjang perjalanan, saya akhirnya belajar untuk membuka percakapan dengan orang asing yang berpapasan di jalan. Entah sekedar beramah tamah, menawarkan permen yang bukan narkoba atau bertanya jalan. Kali itu saya mengajak berbincang sepasang traveler dari Jerman yang baru saja turun dari bis yang sama. Bagaimana cara menuju Myawaddy, kota perbatasan bagian Myanmar? Karena mereka ternyata menuju kota berbeda akhirnya saya pun bertanya pada seorang gadis jelita yang juga berjalan sendirian dengan backpack yang tidak kalah besar dari milik saya.

Namanya Helen, sama-sama ingin menembus perbatasan menuju Myanmar. Akhirnya kami sepakat bersama menumpang tuktuk dengan membayar 50 Baht menuju imigrasi perbatasan. Saat itu baru pukul 5 pagi. Sementara perbatasan baru dibuka pukul 7. Untung saja ada coffee shop yang sudah bisa kami paksa buka di dekat gerbang perbatasan.

Karena waktu menunggu yang cukup lama, perbincangan pun menjadi panjang dengan Helen. Dari situ akhirnya saya tau Helen keturunan seorang ibu asli Rusia dan ayah asli Israel, baru saja menyelesaikan wajib militernya di Israel kemudian memutuskan untuk mengelilingi Asia Tenggara sebelum kembali bekerja di Negara asalnya. Myanmar adalah negara terakhir yang belum dikunjunginya sebelum harus kembali ke Thailand dan terbang pulang ke kampung halaman. Dengan senyumnya yang cerah dan selalu tertawa, Helen sangat menarik perhatian saya. Gadis cantik yang berani berjalan sendiri keluar jauh dari rumah, tidak sungkan tertawa dan berbagi cerita memang menyenangkan untuk jadi teman perjalanan.

Setelah kopi hitam tersaji di meja dan duduk santai kemudian Helen mengeluhkan keadaannya dengan sang kekasih yang tidak bisa menikah di negaranya. Karena dia keturunan dari Ibu yang bukan Yahudi, sehingga dia tidak memiliki hak untuk menikah. Ini aneh sekaligus menarik untuk saya. Saya sudah lama mengetahui bahwa garis keturunan Yahudi ditarik dari garis Ibu. Mengutip Kartini, bahwa seorang Ibu adalah guru pertama bagi anak-anaknya, maka seorang perempuan berhak dan pada akhirnya wajib membuat dirinya berilmu. Begitupun yang dipercaya oleh budaya Yahudi, karena Ibu lah yang pertama mengajarkan bagaimana tata cara hidup sebagai seorang Yahudi kepada anak-anaknya. Tapi saya tidak pernah mengetahui bahwa setiap keturunan yang tidak lahir dari Ibu Yahudi tidak mempunyai hak untuk menikah di negaranya sendiri, bahkan tidak memiliki hak penuh sebagai warga Negara. Tapi tetep disuruh wajib militer. Aing gak paham :/

“But, do you want to get married?”

“No”

“But, you like to have the option?”

“Yes. Exactly. I would love to have the option! You know it’s not about I want to get married or not but it’s like… discrimination, you know?”

Dari perbincangan satu ke perbincangan lainnya. Matahari beranjak muncul di sudut timur bumi dan langit pun berangsur-angsur membiru dengan semburat merah di sudut awan yang menggantung. Kopi hitam di cangkir saya tinggal setengah ketika antrian di pintu imigrasi mulai mengular. Saat itu Helen melipat lengan bajunya hingga ke siku dan menyingkap rambut panjangnya dengan tangan kiri. Di situ, di tangan kiri itu saya melihat ada tattoo kecil bertuliskan “Laugh” di lengan dalamnya.

Spontan saya pun bertanya, “Laugh? Why laugh?”

Dia pun mengusap lembut tattoo-nya sambil tersenyum,

“It’s a reminder for my grandma. She raised me and she always told me to laugh. Laugh! Laugh! Or else you will turn to green!!”

BHAHAHAHAHA

Spontan saya pun tertawa.

“But it works! I always laugh. Well, most of the time. No matter how hard my situation at the moment I always find something to laugh about and mostly.. my self.. hahaha..”

12548960_157672937941604_3755974610572069595_n

Helen, Guide yang mengantar kami beli tiket Bus di Myawaddy, dan saya sendiri

Helen pun menjadi sosok yang semakin menarik untuk saya. Tidak banyak orang yang mampu mentertawakan diri sendiri. Tertawa terhadap kebodohan diri sendiri adalah satu bentuk kesadaran menurut saya. Bukti bahwa kita sadar kita melakukan kesalahan yang membuat kita terjebak dalam situasi sulit. Bukti bahwa kita tau diri. Bukti bahwa diri ini sadar setiap hal buruk yang terjadi dalam hidup kita adalah tanggung jawab kita sendiri. Bukti bahwa kita sepenuhnya eling semua hal hanya sementara, layaknya kebahagiaan, situasi sulit pun akan berakhir pada waktunya, karena sadar akan hal itu kenapa pula harus larut dalam kesedihan dan terombang-ambing nelangsa? Ketawain ajaaa…

Kemampuan menertawakan diri sendiri menurut saya mampu menghindarkan dari perilaku diri yang senang menyalahkan faktor apapun yang ada di luar diri yang hasil akhirnya bisa merusak jejaring kebahagiaan lain. Seperti hubungan dengan teman, pasangan, pekerjaan, keluarga, alam, Tuhan (atau entitas apapun yang dianggap lebih besar) dan yang lebih buruk bahkan mampu memutus hubungan dengan diri sendiri. Tertawakan dan perbaiki. Hadapi dan terima setiap konsekuensi.

Di titik itu saya sepakat dengan Helen. Dengan neneknya terlebih lagi karena dia menurunkan filosofi hidupnya kepada sang cucu dengan cara yang lucu. Saya merasa tidak sendirian, ketika saya menemukan orang yang sama-sama senang tertawa, bahkan menertawai dirinya sendiri sekalipun. Karena saya selalu percaya tawa lebih mampu menyembuhkan luka dibanding membalas luka dengan jenis luka lain.

Have you laughed today?

Ayo Kita Dansa!

“Salah satu cara untuk merayakan hidup adalah menari bersama hidup itu sendiri. Kalo kata saya, apapun yang terjadi dalam hidup ada baiknya jogetin ajaaa..”

12961694_1181968028494228_4405054142003924124_n

Vipassana Survivors at Patan, Kathmandu

“You know what?”

“what?”

“I need to dance. I really really need to dance.”

“You know what?”

“What?”

“SO DO I!! Let’s find party place tonight in Thamel”

…..

Pada awal April lalu saya memulai perjalanan terseru dalam hidup saya. Setelah seorang diri mengelilingi Asia Tenggara selama hampir empat bulan akhirnya saya menginjakkan kaki di Kathmandu, Nepal. Bayangan saya ketika sampai di rumah gunung tertinggi di dunia ini saya akan disambut oleh pemandangan langit jernih berhias gugusan puncak gunung salju Himalaya. Nyatanya, saya disambut oleh langit kelabu bernuansa sendu kota Kathmandu.

Saya terbang dari New Delhi, jika India adalah negeri penuh warna berselimut debu, maka Nepal adalah negeri kelabu yang dikelilingi pegunungan bersalju. Tapi gak keliatan dari Kathmandu :/

Kathmandu sendiri menyandang prestasi sebagai negara peringkat ke-tiga dengan polusi tertinggi di dunia pada April lalu. Kota dengan populasi dua juta manusia ini semakin sesak dengan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang beroperasi sebanyak 700,000 unit, meningkat tiga kali lipat selama sepuluh tahun terakhir. Ditambah dengan kontur geografisnya yang menghambat sirkulasi udara di kota tersebut karena dikelilingi oleh gunung-gunung tinggi dengan angin yang berputar di tengah. Tidak heran banyak penduduk dan turis yang mengunjungi kota ini sering mengalami gangguan saluran pernafasan akut. Maka, sangat disarankan untuk mengenakan masker untuk meminimalisir infeksi saluran pernafasan.

Hal pertama yang saya lakukan ketika sampai di Kathmandu adalah mengikuti program meditasi vipassana selama 11 hari. Semacam program pembersihan jiwa di jantung kota dengan udara yang menyesakkan dada :/

Kursus meditasi ini harus dijalani tanpa komunikasi dengan dunia luar ataupun dengan sesama meditator. Bangun jam 4 pagi mulai meditasi sampai jam 9 malam hanya dengan jeda sarapan dan makan siang kemudian tidur tanpa makan malam. Sesudahnya langsung jadi suci? Tentu tidak 😀

Ketika hari terakhir meditasi para meditator akhirnya memiliki kesempatan untuk berbincang satu sama lain. Bertukar cerita dan berbagi informasi. Saya bertemu dengan Johanna, wanita mempesona dari Jerman Utara yang merupakan mahasiswi Tibetan Philosophy dan sudah  tinggal di Nepal selama tujuh bulan. Karena sebelumnya saya tidak mencari tau apapun tentang di mana harus menginap atau daerah mana saja yang harus dikunjungi di Nepal karena terburu-buru ingin keluar dari India, akhirnya Johanna mengajak saya untuk mencari hotel bersama yang akhirnya diikuti oleh lima orang lainnya.

Jadi, kami bertujuh pada saat itu mengikuti Johanna yang memutuskan untuk menginap di Freak Street, di pusat kota Kathmandu, dekat dengan Thamel dan Durbar Square sebagai pusat turisme dan budaya.

Sementara Thamel adalah pusat pesta dan belanja, Freak Street menyandang gelar pusat backpackers yang menyukai apapun yang harganya jauh lebih murah. Karena jaraknya hanya 15 menit berjalan kaki menuju Thamel maka kami bertujuh tidak bisa menahan diri untuk mengunjungi pusat hiburan dan lantai dansa. Kemudian timbul percakapan seperti ini di antara kami ketika menikmati makan malam,

“What are we doing here? Looking for party and drinking after spending lotsa times meditate and intoxicate our soul?”

“yeah.. that’s what i called balance. Spiritual and material world should be in balance portion, you know?”

“errr.. i’m not sure about that”

“well.. me too actually. But, despite of all the efforts to improve our self through meditation we also have to celebrate life it self. Aaand dancing is one of the way to celebrate, right?

“errr….”

Gak gitu.. tapiii.. Ayo kita joget!

Setelah makan malam kami pun berjalan menyusuri gang-gang sempit Durbar Square menuju Thamel dibantu dengan penerangan cahaya dari ponsel masing-masing. Karena pada saat itu Nepal sedang dilanda krisis listrik sehingga listrik hanya tersedia di waktu-waktu tertentu atau di tempat-tempat yang memiliki bantuan generator.

Sesampainya di Thamel suasana berubah menjadi lebih riuh dengan melimpahnya manusia dan kendaraan menjadi satu di jalan sempit selebar lima meter. Mungkin karena potongan rambut saya dan gaya berpakaian kami bertujuh beberapa warga lokal menghampiri kami menjajakan marijuana sampai opium. Sudah rahasia umum bagi kota-kota pariwisata bahwa perdagangan obat-obatan atau berbagai jenis zat halusinatif sangat bebas beredar di jalan yang penuh dengan wisatawan dan Kathmandu tidak terkecuali.

Dari satu bar ke bar lain, dari satu club ke club lain, kami tidak menemukan satupun musik yang sesuai dengan selera berdansa kami. Kebanyakan dari bar yang kami datangi memutar housemusic ala Nepal dengan petikan sitar dan tabuhan tabla yang semestinya indah namun terdistorsi dengan dentuman beat yang tidak masuk akal, lengkingan penyanyi yang terlalu tinggi dan remix yang merusak tempo.

Bisa dibilang upaya kami untuk mencari tempat berdansa yang kompeten tidak berhasil dan kami harus menahan hasrat berdansa kami entah sampai kapan.

“so, balance, huh?”

yep, balance. i have no idea what balance is. i think we should go back to our room and meditate again.”

“yeah.. i think so”

Jadilah kami bertujuh berjalan pulang dalam kegelapan dengan keadaan mabuk tidak sadar juga tidak, lelah iya dan kecewa juga. Tapi seperti layaknya setiap jejak perayaan hidup. Apapun yang disuguhkan harus tetap disyukuri. Rasa kecewa atau puas, pesta ataupun nestapa, ada lantai dansa atau tidak tetap jogetiiiin ajaaaa…

Dan perjalanan saya setelahnya selama hampir tiga bulan di negara ini selalu dihantui dengan keinginan berdansa setiap berganti teman perjalanan yang ketemu di jalan. Sungguh ini bukan keinginan yang mudah dipuaskan di negara ini.

Lost

Don’t grieve. Anything you lose comes round in another form.

Rumi

Jadi, setelah bertualang ke beberapa belahan dunia selama satu tahun. Banyak sekali foto-foto perjalanan yang saya abadikan melalui kamera telepon genggam. Karena memang dasar anaknya males ribet. Kadang ngeluarin kamera dari tas aja suka malas, apalagi kalo habis jalan berkilo-kilometer, berjam-jam sambil nenteng carrier keberatan menanjak di pegunungan Himalaya. Paling gampang memang hanya mengeluarkan telepon genggam dari kantong celana untuk mengabadaikan momen sekejap yang ada di depan mata.

Namun kemudian, minggu lalu ketika baru seminggu saya kembali pindah ke Bali telepon genggam saya jatuh dari sepeda entah di mana. Sudah sampai berkali-kali menyusuri jalur yang sama tapi tidak ketemu juga. Awalnya saya sudah rela melepaskan. Kemudian kembali diingatkan tadi ketika dimintai foto oleh salah satu teman perjalanan saya. Kemudian, “ANJIR FOTO PERJALANAN AING MASIH BANYAK YANG BELUM DI BACKUP DAN UDAH ILAAAAANG AAAAAAAK….”

HUVT!

Secara kebetulan atau tidak kemudian Rumi membisikkan kata-katanya melalui salah satu akun media sosial, persis mengenai kehilangan. Mungkin nanti akan digantikan dalam bentuk lain. Semoga lebih baik. Semoga ada kesempatan lain untuk mengunjungi tempat yang sama atau tempat baru lainnya. Semoga dipertemukan dengan lebih banyak orang-orang yang mampu menginspirasi lebih lagi. Amin.

Setidaknya ingatan tentang semua tempat yang saya kunjungi masih segar di kepala. Tapi sudah tidak ada pengingat lagi dalam bentuk lain 😦

Untuk mendalami ungkapan “kesalahan adalah bentuk lain pelajaran dalam kehidupan”, kali lain saya sudah tau harus menyimpan setiap dokumen perjalanan tidak dalam satu wadah saja dan untuk mengamini perkataan Buddha untuk tidak melekat pada hal duniawi apapun, inilah saat yang tepat untuk mendalami.

Lagi-lagi, huvt!

Saya jadi ingat pada salah satu teman saya, Jose. Ketika itu saya sedang tidak tau arah mau ke mana di tengah pulau Tao, di gugusan kepulauan Thailand Selatan. Pada saat itu setelah beberapa gelas mojito kemudian percakapan berujung pada soal kehilangan. Jose kehilangan laptopnya pada suatu hari. Dicuri dari kamar hotelnya. Kemudian seperti layaknya manusia sensitif dan mudah terombang-ambing emosi seperti saya, Jose kemudian berjalan-jalan di tepi pantai lalu duduk merenung di atas pasir sambil menunggu senja dan meratapi nasib.

Pada saat itu ia didatangi seorang bapak yang nampaknya seorang penduduk sekitar. Kira-kira sang bapak bertanya demikian, “Aduh Kang kasep, kenapa mukanya sedih pisan gitu?”. Kemudian Jose berceritalah bagaimana laptopya hilang di mana terdapat semua dokumen perjalanan mengelilingi bumi selama bertahun-tahun bersemayam dan dia tidak punya cadangan dokumen di manapun. Sedih dan terpuruk mungkin keadaan jiwanya pada saat itu. Lalu sang bapak pun tertawa. Jose kesal dan ingin melempar sendal ke wajah sang Bapak. Brengsek, lagi sedih malah diketawain.

Tapi, setelah tertawa sang bapak bercerita mengenai apa yang terjadi padanya beberapa tahun lalu. Ingat tsunami besar yang terjadi di beberapa belahan dunia tahun 2014 lalu? Sang bapak yang tinggal di Phuket terkena dampaknya. Beliau kehilangan perahu berlayar, rumah, anak satu-satunya dan hampir kehilangan istrinya. Sampai kemudian setelah beberapa hari mencari dia menemukan istrinya di salah satu kemah pengungsian. Dia hampir kehilangan seluruh hidupnya yang telah dibangun bertahun-tahun.

Namun sekarang dia mampu membangun kehidupannya kembali. Perahu berlayar baru, rumah yang sanggup dibangun kembali dan istri yang sedang menunggu kelahiran anak berikutnya. Lalu sang bapak berkata, “Tiap hal yang kita miliki di dunia pasti akan datang dan kemudian pergi. Sampai ada masanya ketika semua bisa kita dapatkan kembali dengan kemungkinan keadaan yang jauh lebih baik dan kemungkinan akan hilang lagi”.

“Then why are you so sad about something so temporary like your laptop and photograph?”

“errr…”

“can you afford another laptop?”

“yes”

“can you afford to travel more?”

“yes”

“Then why are you so sad?”

“errr…”

“Well.. you can think about it. Mean while, enjoy the rest of your holiday here.”

Saya mengingat cerita ini hari ini. Ketika saya sadar saya kehilangan semua memori liburan saya setahun terakhir. Kenapa sedih karena foto berlibur selama satu tahun yang hilang di telepon genggam ketika semua masih terekam dengan baik di kepala dan mungkin saya masih punya kesempatan lain di kemudain hari untuk mengulangnya kembali?

Huvt.

Lega. Sedikit. Setelah botol beer kedua.

Lagipula, kata orang yang lebih bijak dari saya, tidak ada satupun hal di dunia ini yang mampu bertahan sama selamanya. Semuanya sementara. Kenapa pula harus melekat pada memori di telepon genggam?

Move on kali.

Koma, selesai

Kututup mata dengan menerima malam yang menyuguhkan sekerjap rasa kesal atas sesal yang meragukan eksistensi dirinya sendiri.

Sampai nanti, patahan jiwa yang dengan kurang ajar mengisi keping kosong patahan lain lebih dulu. Tanpa peringatan akan kutemukan kemudian.

Menunggu bukan persoalan inti. Sabar adalah sejauh-jauhnya jarak yang kehilangan titiknya. Koma yang tidak mengenal selesai.

Sementara, salah dan benar mengadakan perarakan perkawinan meriah dan sepakat untuk melebur menjadi lagu dalam simfoni gugur bintang diiringi kepalan tangan penuh sorak kegirangan. Garing dan lantang.

Aku, lebih mudah duduk diam sambil menyelam. Kamu, sedikit tersudut dan terlihat larut. Kita, terseret arus dan mudah hangus. Koma, menuju lurus dengan tulus sampai pada titik. Selesai.

Wild Side

I like to take a walk in the wild side

Where all the bees met their honeys 

While all the birds busy making babies

When you and i hold each other eyes through stories

#JuliNgeBlog Hari-18, Sadar Kemudian

Seperti anak yang diam-diam menaruh perhatian pada kematian. Kinanti menjebak mimpinya untuk terperosok lebih dalam menuju kenyataan. Di mana letak eksistensi akal menuju ajal bersinggungan.

Pukul 2.00 dini hari, gelap yang terlalu biasa. Hujan gerimis membawa lirih suara tangis di lubuk yang teramat dekat dengan ulu hati tersamar decak tidak sabar cicak menunggu nyamuk hinggap lebih dekat.
Kinanti tertawa dalam tidur. Mimpinya tentang dua belati terlempar begitu saja menancap perantara dada dan rusuk kirinya. Sakit sih tidak, karena ini mimpi. Tapi rasanya seperti mati yang kemudian bangkit berdiri dan mencoba berlari. 

Tidak bisa.

Dua belati terlalu membebani.

Darah mulai merembesi kemeja putih dengan semena-mena.

Sial, ini kemeja kesayangan, pikirnya.

“Tunggu, aku seharusnya bermimpi tentang dia. Kenapa jadi mimpi dilempari belati begini?”

Kinanti tersadar dalam mimpi. Mencoba mengecoh dua belati yang tertancap dengan keras kepala di perantara dada dan rusuk kirinya. Mereka harus berubah menjadi dia, pikirnya, tapi lantas kemeja putihnya semakin memerah.

Ah sudahlah, ayo lari lagi dan kita tunggu penampilan dia di gerbang mimpi berikutnya. Sebentar lagi peran belati ini pasti usai.

Semakin berlari, semakin koyak kemejanya, belati pun sedikit tergelincir dari daging yang menahannya.

“Aduh, harusnya ini tidak sakit. Brengsek.”

Larinya pun perlahan membeku menuju kaku. Kinanti terduduk. Memegangi belati yang tertancap di perantara dada dan rusuk kirinya. Ia tau ini mimpi tapi apa maksudnya?! 

“Harusnya aku bermimpi tentang dia”

Kembali Kinanti berpikir sama keras kepalanya dengan dua belati yang tertancap di perantara dada dan rusuk kirinya.

Pandangan mengabur. Hitam lorong yang sedari tadi dilaluinya perlahan melebur. Kemudian terdengar ketukan di pintu.

“Kinanti makan!”

Ibu membawa sepiring nasi lengkap dengan telur dan sayur. Seperti kebiasaannya. Ibu tau Kinanti terlalu malas keluar kamar jika tidak harus pergi ke mana-mana.

Nasi, telur, sayur sawi putih. Dua belati yang tertancap di perantara dada dan rusuk kiri. Apa maksudnya?

Kemudian kesadaran membisikkan sesuatu. Sesuatu yang terdengar jauh sekali dari lubuk terdalam di pojok ulu hati.

“Kamu terjatuh padanya, tanpa disadari, tanpa peringatan akan bilur yang akan semakin menjajah isi. Jiwa mu mengkhianati sementara tulang rusukmu sudah lama hilang dicuri ketika kamu sibuk dengan diri sendiri”

Nasi, telur, sayur sawi putih. Dua belati yang tertancap di perantara dada dan rusuk kiri. Kini mereka saling mengisi ruang yang tadinya dihuni Kinanti.

Sementara jiwa Kinanti terurai menjadi buih-buih air dan udara di sudut diamnya.